Nikah Kok Dadakan?

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/people-couple-man-guy-woman-2595862/

"Serius nikah, Fik? Kok enggak ngundang."

"Masyaallah, enggak ada kabar tiba-tiba nikah aja, Fik."

Kurang lebih dua pesan di atas kemarin menghiasi layar kaca hape butut saya. Berpuluh-puluh dari teman-teman satu almamater, baik itu teman di kampus, organisasi, komunitas, satu kelas online, dan sebagainya. Rata-rata menyiratkan ekspresi terkejut.

Sesungguhnya saya maklum dengan respon teman-teman yang seperti itu. Karena emang sepanjang proses dari taaruf, khitbah sampai persiapan nikah, saya puasa pamer. Iya, puasa buat posting hal apa pun yang berkaitan dengan nikah. Hatta, sebakda khitbah pun, pantang!

Pertanyaannya, why? Seorang kawan bahkan ada yang bilang, "Posting itu kan bentuk berbaik sangka sama Allah, kalo dia bakal jadi jodoh kita, Bro."

Biarlah itu jadi pemahaman dia. Dalam pemahaman saya yang bodoh ini enggak begitu dalam menjemput jodoh. Boleh saya kasih analogi sederhana? Kamu boleh enggak setuju sama analogi ini.

Alkisah, Rojali baru saja dapat kiriman pecel lele super gurih dari seorang kawan. 

"Alhamdulillah, rezeki anak sholeh," ujarnya sewaktu membuka karet dan kertas bungkus pecel lele. Air liurnya hampir aja mau netes. Ngiler.

Dari meja makan, Rojali menuju ke dapur. Hendak cuci tangan sebelum makan. Ajaran baik dari gurunya di TK yang terus dipegang teguh.

"Waduh, mana lele gue?" Rojali terheran-heran melihat hanya tersisa bungkus sambal, timun, kol, dan daun kemangi. Lelenya raib, entah ke mana.

Setelah ditelusuri, ternyata seekor kucing sedang asyik menyantap ikan lele yang semok. Dagingnya tebal dan lembut. Setengah badannya udah habis, pertanda sedang lapar berat. 

Rojali hanya bisa menghela napas panjang.

Nah, dari cerita di atas, pelajaran apa yang bisa kamu tangkap?

Iyeees, rezeki itu baru disebut rezeki ketika kita bisa merasakan manfaatnya. Selama belum bisa dimanfaatkan, itu belum jadi rezeki.

Terus apa hubungannya dengan jodoh?

Begitu pula dengan jodoh. Dalam pemahaman saya yang bodoh, belum jodoh namanya selama belum akad. Jadi, selama belum akad, buat apa pamer status?

Sudah saya saksikan sendiri bahwa 
  • Ada kawan yang share foto tunangan di Facebook, dan berencana nikah satu tahun kemudian. Belum sampai setahun, batal nikah.
  • Ada kawan yang share foto bridal shower. Dalam waktu dekat, mau nikah. Tidak lama potret-potret bridal shower-nya hilang dari feeds Instagram. Usut punya usut, batal nikah juga.
  • Ada lagi kawan istri - ini saya baru dapat semalam (29/12) - yang udah booking gedung, dan wedding organizer dengan bayar DP padahal belum lamaran. Modalnya yakin aja bakal jadi jodoh. Kabar buruknya, calonnya nikah sama orang lain dengan gedung dan wedding organizer yang udah di-DP sama kawan istri.
  • Dan masih banyak lagi.
Dari situ, saya dapat kesimpulan sederhana:

Selama akad belum terujar, berusahalah puasa pamer
Sepakat?

Karena hasil apakah seseorang bakal jadi jodoh kita atau tidak, itu hak mutlak Allah. Kita enggak bisa mengaturnya sama sekali. Tugas kita sebagai hamba hanya sebatas menikmati proses menuju ke pernikahan aja. Soal nikah atau tidak, sekali lagi itu urusan Tuhan.

"Itu mah emang nasib lagi apes aja kali. Teman-teman gue banyak yang pamer status sebelum nikah, akhirnya nikah, kok."

Hmm, ya itu kan nasib orang. Udah yakin nasib kamu bakal sama? Dari angka 1 sampe 10, ada di angka berapa keyakinan kamu?

Buat saya, lebih baik berpuasa-puasa dahulu, berpamer-pamer kemudian. Kenapa? Karena


  • Jika takdir buruk terjadi, enggak malu-malu banget. Seenggaknya enggak jadi bahan ghibah pemirsa medsos (red: netizen). 
  • Jika takdir buruk terjadi, rasa kecewa di hati tidak terlalu dalam. Sewajarnya saja.
  • Jika takdir buruk terjadi, hanya kamu dan keluarga terdekat yang tahu. Tidak jadi rahasia umum.
Sampai sini dulu. Nanti kita lanjut lagi insyaallah. Mau nyarap dulu euy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar