Mindset Penulis

 Serius mau jadi penulis?

Serius mau menulis buku?

Enggak lagi bercanda, kan?

Saya heran lho, kok mau jadi penulis? Ngapain? Emangnya yakin bukunya laris? Siap bertahan menulis sampai jadi satu buku? Udah siap naskah ditolak sama penerbit?

Ini bukannya saya sombong atau meremehkan kamu. Serius enggak ada manfaatnya juga buat saya. Cuma masalahnya dalam kurun tahun 2019 ini, saya sudah menemukan orang-orang yang mau PENSIUN jadi penulis. Iya, berhenti total jadi penulis.

Di waktu yang sama, saya menemukan api yang meletup, bara yang berkobar dari manusia-manusia yang bermimpi jadi seorang penulis. Di antara api dan bara itu, kamu orangnya.

Karena itulah, saya bertanggung jawab buat blak-blakkan. Buka-bukaan dapur penulis. Hanya demi membuka apa yang seharusnya dibuka. Hanya demi menyingkap agar kamu tak gelagap. Hanya demi mengurai supaya kamu terus beraksi. Tak pensiun dini.

Di tahun ini, Tuhan membelalakkan nurani saya. Ternyata di antara riuh orang berbondong-bondong untuk jadi penulis, diam-diam ada rinai mimpi yang jatuh. Memutuskan untuk pensiun jadi penulis.

Di antara rinai-rinai yang memilih pensiun, saya memilih dua kasus saja. Dua orang yang gugur dan keluar dari barisan para pejuang pena.

Boleh saya ceritakan? Udah bolehin aja, ya. Kasihan ini udah ngetik sampe sini. Kalo enggak boleh, capek tauuuuk ngapusnya. Ngapus tulisan yang udah ditulis itu sama beratnya dengan menghapus jejaknya. Uwuwuwuwu.

Udah deh, lanjut, ya. Kita mulai dari orang pertama.

Orang pertama, sebut saja namanya, Rojali. Teman saya. Suka menulis fiksi. Naskah novelnya sudah ditolak penerbit. Berkali-kali. Pedihnya lagi, sang editor yang menolak tak memberikan alasan. Satu poin pun tidak.

Hatinya hancur. Berkeping-keping. Luluh lantak. Sampai murung. Mimpi besarnya, buku pertamanya wajib masuk penerbit mayor. Buku-buku berikutnya tak masalah cetak di penerbit indie. Tuturnya, “Meneladani para sastrawan biar punya ceruk pasar dahulu.”

Saya sesungguhnya tak sepakat. Namun, itu jalan menulisnya. Sebatas memberikan pandangan. Bahwa mau terbit di mayor atau indie, intinya berikan konten yang berkualitas dan cerdas memasarkan. Enggak harus jago jualan, tapi cerdas jualan. Kapan-kapan kita bahas, ya, insyaallah.
Pliiis, jangan protes, kok nulisnya bukan insya Allah atau insyaAllah, sih? Nanti panjang urusan. 
Bukan di sini tempat pembahasannya.

Balik lagi ke Rojali. Maaf jadi skip ada iklan deh ini.

Rojali bukan tak pernah menulis buku. Pernah. Buku antologi. Dia sudah beberapa kali mengikuti projek antologi. Berdasarkan pengalamannya, buku antologi tidak menjual. Semua buku antologinya sebatas jadi portofolio. Tak ada yang membeli seseorang pun.

Puncaknya, penolakan dari penerbit besar yang mencabik-cabik isi hatinya. Memporakporandakan impiannya untuk jadi penulis. Rojali jengah dan marah. Keputusan besar pun dia pilih, “Bro, gue udah cukup. Ke depan dan seterusnya, menulis biar jadi sebatas hobi saja. Karena ternyata susah buat hidup dari menulis.”

Saya tak berkutik. Rojali keras kepala. Sebatas memberikan bukti dari penulis-penulis yang belum dikenalnya. Mengungkapkan fakta bahwa ada lho penulis yang hidup dari menulis. Makmur dan sentosa.

Orang kedua, sebut saja namanya Rohaye. Saya enggak kenal, sih. Hanya tahu kabar pensiun Rohaye dari grup WhatsApp. Dari salah seorang penulis di buku antologi jelek kami, Menuju Halal (Quanta, 2018). Ini pesannya ...

SANTI
[GAMBAR SCREENSHOOT]
Ada yang mau beli naskahnya beliau?
Penulis buku ******* yang diterbitkan ******* (Penerbit mayor).

UDA
Berapa, Mbak?

SANTI
1,5 juta, Uda


UDA
Tema naskanya tentang apa, ya?

SANTI
Belum ditanya, Uda. Tapi, religi

UDA
Kirim ke ******* (Penerbit kompetitor) aja, Mbak. DP-nya aja dapat 1,5 juta.

SANTI
Dia mau berhenti nulis, Uda
Mau tutup akun social media juga
Makanya mau jual naskah

Fyi, ini isi GAMBAR SCREENSHOOT di atas yang diambil dari DM Instagram:

FULANAH
Kakak, aku pengen minta tolong. Aku ada naskah nih. Udah masuk dan diterima sama penerbit anu. Udah ttd kontrak dan dikasih DP. Tapi, karena udah hampir dua tahun nunggu, akhirnya naskah dikembaliin. Bukan punya aku aja tapi banyak juga. Alasannya karena banyak naskah numpuk. Tapi, ada pengurangan penerbitan buku gitu di sananya. Jadi, di sini mutusin buat jual naskah aku dan kemungkinan berhenti main medsos juga. Mungkin ada teman Kak Santi yang mau atau butuh naskah, aku mau jual, hehehe.

SANTI
Coba aku bantu, ya

Tanpa perlu saya ungkap semua, saya percaya kamu sudah cukup cerdas menangkap sinyal-sinyal betapa kejamnya dunia kepada si penulis. Pertanyaannya sederhana, apakah kamu siap menghadapi kenyataan seperti di atas?

Itu semua kembali ke sesuatu yang kita sebut mindset. Dalam hal ini mindset mencintaimu eh mindset penulis.

Duuuh, emangnya seberapa penting, sih, mindset buat seorang penulis?
Jawabannya, ada di gunung es ini.

Sumber foto: rumahcemara.or.id

Gunung es itu sama seperti kita. Apa yang orang lain lihat dari kita itu sama kayak bongkahan es yang terlihat. Apa saja? Fisik, penampilan, agama, suku, karakter, logat, bahasa tubuh, tahu teori menulis, dan apa pun yang bisa ditangkap oleh panca indera orang lain. Semua itu hanya membantu 20% seseorang untuk menuntaskan buku. Sementara bongkahan es yang tersembunyi, menentukan 80% seseorang untuk menyelesaikan naskahnya jadi buku. Bagian yang jarang orang perhatikan.

Kebetulan saya sempat ketemu sama orang model ini. Sangat antusias sekali saat menulis buku. Posting sana-sini. Bisik sini-sana. Belum sampai sepekan, sudah berhenti. Alasannya, hanya karena sulit membagi waktu karena dia karyawan. Alasan yang klasik banget. Padahal laptop punya, rumahnya terpasang koneksi internet, dan punya teori kepenulisan.

Sementara itu, saya punya teman. Orang Tangerang asli. Enggak punya laptop. Hanya bermodalkan hape. Dia sering share tulisan di Instagram. Ajaib, banyak yang suka. Follower akunnya sudah sampai 10 ribuan. Dalam waktu dekat, bukunya mau terbit. Sampai detik ini, dia masih belum punya laptop. Terus nulis bukunya gimana? Lain waktu kita bahas, ya. Omong-omong, kawan saya ini pun karyawan juga.

Begini gambaran singkatnya:

PENULIS
BONGKAHAN ES YANG TERLIHAT (20%)
BONGKAHAN ES YANG TERSEMBUNYI (80%)
Penampilan
Bahasa tubuh
Fisik
Logat
Teknik menulis
Dan lain-lain

Mindset
Dream
Reason (Big Why)
Belief system
Dan lain-lain

Tanpa panjang kali lebar, kita mulai saja, ya.

Mindset Pertama: Menulis adalah Kompetensi

Siapa bilang menulis adalah bakat? Menulis adalah tentang kompetensi. Bukan bakat khusus yang Tuhan berikan ke seseorang. Coba perhatikan nama-nama di bawah ini:
-      
  • Deddy Corbuzier seorang pesulap, host, dan belakangan disebut sebagai The Father of YouTube. Dari profesinya, apa ayahnya Azka ini bisa menulis? Nyatanya, tokoh yang belum lama masuk Islam ini sudah menulis buku, kok. Silakan Googling sendiri saja apa buku-buku karya Om Deddy.
  • Ustaz Yusuf Mansur, ustaz dan pengusaha. Profesinya nggak berkaitan sama menulis. Tebak berapa buku yang sudah beliau buat? Buanyaaaak!
  • Bang Tere Liye, profesinya akuntan. Profesi yang disebut-sebut dominan otak kiri berlawanan dengan profesi menulis yang katanya dominan otak kanan. Kok bisa? Bisa.
  •  Jamil Azzaini, inspirator SuksesMulia yang sekali ngomong bisa memukau audiens. Walau bakatnya ngomong di depan umum, beliau pernah punya program menulis setiap hari di website pribadi. Apa berhasil? Berhasil. Bahkan setiap setahun sekali, nyaris selalu ada satu buku baru yang diterbitkan dari tangan beliau.
Artinya: SEMUA ORANG BISA MENULIS. Tentu sesuai dengan kapasitas dan bidangnya masing-masing.

Hal yang perlu ditanamkan adalah

Menulis tentang kompetensi bukan bakat alami

Namanya juga kompetensi pasti harus ada proses yang dilalui. Tidak mungkin baru sekali belajar teknik kepenulisan langsung bisa menulis. Ada prosesnya. Setiap proses ini punya karakternya sendiri-sendiri. Noel Burch dari Gordon International Training mengenalkan istilah The Four Stages for Learning Any New Skill pada tahun 1970. Menurut saya, konsepnya yang membagi 4 tahapan seseorang dalam mempelajari keahlian baru cocok sekali dengan kepenulisan. Karena menulis adalah keahlian (kompetensi). Bukan bakat apalagi hasil semedi jadi dukun.

Apa saja 4 tahapan yang pasti semua orang lewati dalam proses belajar?


  1. Unconsius-uncompetance
  2. Consius-uncompetance
  3. Consius-competance
  4. Unconsius-competance



Sumber foto: Dokumen pribadi


Tahap Pertama: Unconscious Incompetence

Di sini, bisa dibilang tahap tidak tahu apa-apa sama sekali. Karena memang belum ada keinginan dan kebutuhan untuk mempelajarinya. Masih belum ada kebutuhan mendesak kenapa seseorang harus belajar tentang A, B, atau C.

Pada keseringannya, orang di level ini suka nyinyir. Ya, kayak sok bisa gitu lah. Sudah belum tahu apa-apa, sombong pula. Gawaaaat.

Contohnya:

Ada seorang teman yang menulis buku pribadi dan best seller. Bukannya memberikan apresiasi, Rojali malah menggerutu, “Halah, nulis buku mah gampang. Gue juga bisa. Apalagi bukunya cuma best seller toko buku. Belum nasional.”

Sudah paham, ya?

Di awal tahun ini, ada buku fenomenal yang mengejutkan pasar. Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya dari Marcella FP. Isinya tentang qoute doank tapi penjualan pre order mencapai 4.000 eksemplar. Edaaaan!

Terang saja, banyak penulis yang nyinyir, “Gitu doank mah gue juga bisa.”

Nah, penulis yang nyinyir ini mungkin secara skill lebih baik dari Mbak Marcella. Namun secara mental masih ada di tahap ini. Kok gitu? Iya, soalnya mendaulat dirinya sok bisa. Mungkin saja dia bisa menulis novel yang tebal, namun soal quote apakah berkompeten? Belum tentu, kan? Jadi, kalau tak mau berada di tahap ini, buktikan.

Ya, enggak semua orang yang di tahap itu seperti di atas. Ada juga yang biasa-biasa saja. Karena memang sadar pentingnya memiliki softskill A, ya enggak mau ambil pusing. Contohnya: Rojali sudah kuliah. Cuma dia belum menyadari akan kebutuhan skill naik motor. Selama Rojali belum butuh, dia akan masa bodoh. Maka, dia akan menikmati pulang pergi memakai kendaraan umum.

Tahap Kedua: Conscious Incompetence

Di sini, seseorang sudah mulai menyadari ternyata dirinya belum memiliki suatu skill. Baru tahap sadar alias awareness. Sudah timbul sebuah kesadaran untuk mempelajarinya. Bebas mau otodidak atau pakai guru.

Melanjut kasus di atas, ya. Rojali kan belum sadar kalo dirinya butuh skill naik sepeda motor. Suatu ketika dia telat ke kampus seminggu berturut-turut karena naik angkot. Setelah diselidiki, ternyata hanya dirinya yang belum bisa naik sepeda motor. Semua temannya pergi ke kampus mengendarai motor. Makanya teman-temannya tidak telat. Dari sinilah, Rojali mulai minta waktu ke teman baiknya, Bayu, untuk belajar motor di akhir pekan.

Dalam kasus Marcella FP, penulis yang semula nyinyir tiba-tiba bungkam seribu bahasa. Ternyata menulis qoute tidak semudah meludah. Penulis lainnya baru sadar ternyata menjual 4.000 eksemplar dalam masa pre order sama sulitnya dengan melupakan mantan terindah. Uhuuuuy.

Sadar demikian, dua penulis ini akhirnya mulai belajar. Satunya belajar cara bikin qoute yang nampol abis, satunya belajar bagaimana caranya menjual 4.000 eksemplar selagi masa PO.

Tahap Ketiga: Conscious Competence

Yeay!

Akhirnya, bisa juga. Di tahap ini, seseorang masih sebatas bisa. Melakukan sesuatu masih based on theory. Masih butuh mengulang-ulang pelajaran, masih kaku, belum lentur, butuh konsentrasi dan perhatian penuh, dan sangat hati-hati sekali.

Lanjut dari kasus di atas, sudah bisa ditebak lah ya ...

Setelah belajar sama Bayu, Rojali sudah bisa mengendarai sepeda motor. Cuma masih kagok saat menyebrang dan ngebut di jalan raya. Setiap mau belok dan nyalip kadang masih ragu. Beloknya masih kaku. Belum luwes. Terkadang masih salah pencet. Mau pencet klakson malah starter. Mau pencet tombol lampu sen kanan sambil klakson, bingung. Masuk gang kecil yang ramai orang, nyenggol orang karena grogi.

Sedangkan penulis yang belajar quote masih sering membuka catatan dan mengulang audio dari mentor menulisnya. Masih berpikir keras setiap kali mau menulis satu quote yang sederhana tapi mengena. Penulis yang mau menjual pre-order mencapai 4.000 buku masih mengeja logaritma Instagram dan media sosialnya. Katanya buat kolam ikan dahulu. Sebelum melempar karya bukunya. Sabar.

Di tahap ini, seseorang akan lebih percaya diri. Namun, ada penyakit yang harus dihindari ...


  • Baru praktik sudah merasa bisa
  • Sudah paham dan mengerti teori, lemah di eksekusi. Jarang praktik. Jadi hasilnya kurang maksimal.
  • Ada yang rajin praktik dan eksekusi, namun berani menyalahkan orang lain yang tidak sepelaminan. Loh kok ke sini, sih? Maaf, maaf. Namanya baru belajar, semangat buat pamer itu sangat kencang sekali dan enteng menyalahkan orang lain. Masih butuh pujian dan pengakuan dari orang lain.
Pernah ada yang begini?

Saya juga pernah, kok. Santai saja. Belum afdal rasanya kalau belum merasakan tahap ini. Nikmati saja.

Tahap Keempat: Unconscious Competence

Inilah harapan kita, berada di tahapan ini. Melakukan sesuatu dengan kesadaran sedikit, sangat cepat, tanpa mikir panjaaaang. Otomatis. Hanya orang-orang tertentu yang berada di level ini: para ahli, experti, dan mastreo di bidangnya.

Tanpa sadar, sebenarnya kita sudah berada di level dewa ini. Mau bukti?


  • Saat kamu sikat gigi, memangnya pakai mikir? Enggak, kan?
  • Saat kamu mengendarai motor atau mobil, sudah langsung tancap gas, kan? Sudah otomatis. Enggak mikir lagi, mana tombol lampu, lampu sein, dan starter. Sudah hafal di luar kepala.
  • Saat kamu jalan kaki dari rumah ke pasar, apakah mikir kanan atau kiri dulu? Enggak, kan
Tanpa sadar sebenarnya kita sudah berada di tahap ini dalam beberapa konteks. Termasuk di atas tadi. Kereeeen, kan?

Nah, sebagai penulis, kita harus berada di tahap ini. Seseorang yang melakukan sesuatu tanpa sadar. Sudah otomatis dari otaknya.

Minimal dari segi mental. Dari pengamatan saya, orang-orang yang berada di level ini cenderung:
  • Tidak suka pamer
  • Tidak mudah menyalahkan orang lain
  •  Menghargai perbedaan
  • Tidak segan minta maaf duluan
  • Senang memberikan pujian dan kritik secara berimbang
Ayooo deh, kita pantesin diri sama seperti mereka yang berada di level ini. Walau masih baru belajar, tapi tidak kurang ajar. Menjaga adab. Tahu diri.

Jadi sudah jelas, ya, menulis hanya tentang kompetensi. Setiap orang pasti akan melewati 4 tahapan di atas untuk jadi seorang penulis. Sudah siap?

Mindset Kedua: Semua yang ditangkap panca indera adalah inspirasi

Salah satu penghambat seseorang menulis adalah tak ada inspirasi atau ide. Bingung mau menulis apa. Writer’s block bahasa anak JakSelnya. Mentooook.

Ini gawat, sih, kalau seseorang mengaku tak punya inspirasi. Padahal semua hal yang ditangkap panca indera merupakan lumbung inspirasi. Dari apa yang kita lihat, dengar, cecap, endus, dan sentuh. Makanya banyak yang bilang, penulis yang baik adalah penulis yang peka bangeeet sama sekitar.

Dari obrolan kids zaman now di angkot soal percintaan bisa jadi bahan tambahan cerita di novel. Dari masalah dan kegelisahan yang kita lihat di depan mata bisa jadi bahan inspirasi. Pokoknya, aktifkan panca indera supaya bisa mendapatkan inspirasi yang berbeda.


  • Berapa banyak orang Jomblo di muka bumi, kenapa hanya Raditya Dika yang dibaiat sebagai Raja Jomblo Indonesia? Jawabannya karena Bung Radit peka dengan apa yang dialaminya sama persis dengan apa yang dialami banyak orang. Sehingga dia menuliskannya di blog kemudian jadi buku.
  • Theodorl Herzl, seorang Yahudi yang melihat bagaimana kaumnya dikucilkan, disiksa, dan dikerdilkan. Sebagai seorang jurnalis, Herzl membuat buku yang berisi tentang sebuah negara khusus bagi kaum Yahudi. Dendamnya berbuah manis, negara Yahudi berdiri pada tahun 1948.
  • Ahli Bahasa dari Maroko, Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji mungkin tak akan menyangka sama sekali. Buku kecil yang ditulisnya dengan nama Al-Ajurumiyah yang berisi tentang tata bahasa Arab akan laris manis sampai sekarang. Bayangkan saya, buku yang ditulis dari tahun ke-7 H/13 M ini masih jadi rujukan bagi siapa pun yang ingin belajar bahasa Arab. Itu semua berkat kepekaan ulama yang dipanggil Ibnu Jurumiah yang melihat sulitnya orang-orang belajar bahasa Arab.
Jadi, apa pun yang ditangkap oleh panca indera jadikan sumber inspirasi. Sudah jelas, kan?

Mindset Ketiga: Lebih Baik Menulis Buruk Daripada Tidak Sama Sekali

Seorang adik kelas pernah curhat, “Bang, saya sudah suka nulis, tapi malu buat share ke public. Gimana solusinya, ya?”

“Loh, kenapa?”

“Takut dibilang jelek. Soalnya masih belum ngerti kaidah bahasa.”

Ada yang mengalami hal yang sama? Jika IYA, sini saya bisiki ...

  • Selama tulisan kamu tidak berisi tentang hoax dan plagiat, itu bukan tulisan buruk.
  • Selama tulisan kamu ada pesan moralnya, bagikan saja.
  • Selama tulisan kamu bermanfaat, bagikan saja.
Kenapa?

Karena di situlah janji Allah terbukti. Ketika kita sedekah ilmu lewat tulisan, Allah balas dengan ilmu-ilmu baru yang mengagumkan. Caranya Allah memberikan balasan memang beragam rupa ...

  • Ada orang yang tiba-tiba mengkritik argumentasi kamu. Gara-gara itu kamu buka-buka referensi lagi dan ternyata benar ada sesuatu yang terselip dan orang itu benar.
  • Ada orang yang tiba-tiba mengucapkan terima kasih karena berkat tulisan kamu, dia jadi terinspirasi atau mungkin tergerak buat berubah
  • Ada guru yang mendadak nelepon, memberikan wejangan dan tambahan ilmu baru.
Saya meyakini bahwa kejahatan yang paling kejam di dunia adalah diamnya orang-orang baik. Salah satu bentuk diamnya, tak berani menyebarkan apa yang sudah ditulis. Merasa tulisannya buruk.
Kalau memang buruk, buruk apanya dulu?

Konten, argumentasi, kaidah bahasa, atau apa? Diperjelas dulu donk

  • Kalau argumentasi yang masih belum kuat, riset lagi donk
  • Kalau kaidah bahasanya belum bagus, sambil menulis ya belajar self editing. Pelan-pelan. Enggak usah buru-buru.
  • Kalau sistematika tulisannya yang masih berantakan, ya tinggal belajar saja. Cari mentor yang kompeten.
Mindset Keempat: Riset-riset dahulu, tulis-menulis kemudian

Tahu kenapa banyak orang berhenti menulis di tengah jalan?
Salah satu penyebabnya karena kurang riset. Dosa besar penulis pemula adalah lebih menggebu-gebu menulisnya daripada risetnya. Hasilnya apa yang terjadi? Dia ditikung sama orang. Maksudnya gini loh, akhirnya ada orang lain yang menulis buku yang idenya mirip dengan kamu. Ditikung itu namanya. Periiiih.

Guru kami mengajarkan bahwa menulis itu sama seperti memasak. Lihat saja apa yang dilakukan seorang koki sebelum masak? Ya, siapkan bahan-bahannya dahulu. Wajib lengkap dan komplit. Setelah bahannya siap, disajikan deh. Bawang merah ditiris dulu, cabe diulek dulu, dan lain-lainnya.

Barulah setelah bahan ready, seorang koki siap memasak. Lucunya, waktu memasak dengan waktu siapkan bahan lebih lama menyiapkan bahannya. Siapkan bahan bisa satu jam, masaknya 15 menit. Sebentar banget.

Itulah yang dilakukan para penulis besar. Makanya jangan heran kalau dengar si A menulis novel dalam waktu seminggu, si B menulis buku dalam waktu 3 hari, si C menulis buku dalam waktu sebulan. Bukan menulisnya yang cepat, tapi risetnya yang sudah matang sehingga tinggal diolah saja jadi tulisan.

Menyambung ke mindset sebelumnya, ini sangat penting jika tulisan yang kita tulis di luar kompetensi. Misalnya, lagi rame soal kasus pemindahan ibu kota Indonesia. Rojali kerjanya jadi seorang office boy. Boleh enggak seorang OB nulis tentang pemindahan ibu kota? Boleh saja asal argumentasi dan datanya kuat dan masuk akal. Nah, itu semua pertaruhannya ada pada riset.

Guru kami bilang,
“Menulis itu 80% tentang riset, 20% sisanya tentang teknik dan teori menulis.”

Mindset Kelima: Best Seller adalah Keniscayaan

Penulis ternama, Ahmad Rifa’i Rif’an membagi tiga level penulis. Level pertama, asal menulis. Kedua, asal terbit. Ketiga, asal best seller. Nah, saya termasuk orang yang menganut mazhab, “Best seller adalah keniscayaan.”

Ini bukan karena mata duitan, ya. Bukan. Ini lebih kepada menghargai karya tulis kita sendiri. Cita-cita best seller wajib ada di benak semua penulis. Ketika setiap penulis punya itu, ia akan menghadirkan isi dan konten buku yang segar. Bukan sekadar tulisan semata. Bukan kaleng-kaleng.

Saya kasih analogi gini deh ...

Rojali dan Rohaye ini anak kembar beda jenis kelamin. Rojali sejak SMP punya cita-cita kuliah di yellow jacket. Sedangkan si Rohaye cita-citanya sederhana, masuk Stanford University. Pertanyaannya, siapa yang bakal belajar lebih rajin, latihan lebih giat, menghafal lebih banyak, dan berdarah-darah? Jelas Rohaye, kan? Sesederhana itu sih.

Begitu pula jika kita punya mimpi besar, buku yang kita tulis masuk best seller nasional dan cetak ulang. Minimal best seller di satu-dua provinsi lah. Pasti usaha yang kita keluarkan akan lebih besar daripada penulis yang punya target asal buku target. Betul, ya?

Target best seller lagi-lagi bukan bicara soal royalti. Itu bonus lah. Tambahan buat modal mahar, hehehe. Ini lebih kepada soal kebermanfaatan. Ketika buku kita best seller, nilai kebermanfaatannya lebih luas. Katakanlah sekali cetak di penerbit mayor, buku kita dicetak 3.500 eksemplar. Kemudian buku yang laris di pasaran 3.000 eksemplar. Artinya, ada 3.000 orang yang sudah kita doktrin.

Bukankah salah satu amal jariah yang tak terputus saat kita wafat nanti adalah ilmu yang bermanfaat? Dengan buku kita dibaca 3.000 orang lalu mereka menyebarkan ajaran yang ada di buku itu turun-temurun. Apa yang terjadi? Sekalipun kita sudah terkubur tanah, kita masih dapat kucuran pahala. Passive pahala.

Memang betul best seller itu untung-untungan juga. Namun, kita bisa mengikhtiarkannya lewat ikhtiar bumi seperti endorsement, paid promote, Instagram atau Facebook Ads, give away, bedah buku, dan lain-lain. Paling terpenting, sebelum iklan di mana-mana, iklan dulu ke orang tua dan Allah.  Minta didoain dan berdoa.

Nah, dari 5 mindset di atas, mana yang masih kamu belum miliki? Silakan tulis di bawah ini!







Kenapa masih belum?









Apa yang kamu lakukan untuk membalik mindset kamu?














Kapan mau lakukannya?





Setelah melakukannya, sudah lengkap jadi 5 mindset, kan?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar