Orang yang Pacaran adalah Orang yang Percaya Diri


Sumber foto: https://pixabay.com/photos/ladybugs-ladybirds-bugs-insects-1593406/

Judul di atas, hasil dari kesimpulan ngaco saya.  Setuju atau enggak, itu hak kamu. Santuuuy. Lagian juga ini hanya opini ngawur saya saja.

Hanya saja supaya tidak ada dusta di antara kita, pastikan kamu membaca tuntas tulisan abal-abal saya ini. Jika memang ada kebaikan, itu atas kuasa dan izin-Nya. Oh iya, sebagai tanda syukur, tolong bagikan tulisan amburadul ini ke orang-orang terdekat sebagai bentuk sayangmu. Itu kalo kamu sepakat dengan isinya. Mau, kan?

Jika memang ada kekeliruan dan kesalahan, itu emang lakon saya yang ndablek. Kecerobohan saya dalam mengambil kesimpulan. Kepandiran saya yang kurang riset. Tolong dikoreksi, ya. Syukur-syukur ada tulisan pembanding. Yuuk kita sama-sama saling melengkapi. Setuju?

Kesimpulan ini bermula dari dua kejadian. Keduanya dari sumber yang berbeda. Kita mulai runut dari pertama, ya.

Ini semula dari cerita salah senior saya – abang kelas, beda tiga angkatan – di pesantren. Sebut saja namanya Bang Ghofur – nama aslinya Abdul Ghofur. Bang Ghofur ini bisa dibilang sosok yang nyaris sempurna insyaallah wa masyaallah.

Dari 4 kriteria ala Nabi: agama, wajah, keturunan, dan harta, mungkin hanya minus di wajah – ini enggak bermaksud mengerdilkan. Kulitnya sawo matang, posturnya gemuk, dan parasnya standar orang Indonesia. Enggak jelek-jelek amat, enggak cakep-cakep banget.

Di usianya yang sudah mendekati kepala tiga, nikah sudah jadi kebutuhan, malah kewajiban. Sebab memang sudah siap secara iman, ilmu, biologis, psikis, dan ekonomis. Sudah waktunya menikah. Sekarang atau tidak sama sekali. Duuuh, serem amat.

Singkat cerita, Bang Ghofur ini siap nikah dengan salah seorang wanita yang saya kenal juga. Kak Shofa – kakak kelas beda satu angkatan – namanya. Putri dari Ustaz Muadz Djaelani. Salah seorang tokoh berpengaruh di sekolah dan yayasan almamater saya.

Sejujurnya, saya enggak tahu persis bagaimana proses awalnya terjadi. Saat saya tanyakan selagi Bang Ghofur asyik bercerita, dia hanya jawab, “Ceritanya panjang.”[1]

Pokoknya langsung ke momentum Bang Ghofur mengutarakan niatnya mau menikah ke orang tua.

“Emang lu udah ada duitnya?”

“Ada alhamdulillah. Ghofur ada duit segini.” Cowok berkacamata ini menyebut angka yang lumayan besar. Rupanya senior saya ini sudah menyiapkan sekitar setahun belakangan.

Restu sudah di tangan. Proses pra-nikah pun berjalan. Dari mulai lamaran, belanja persiapan akad dan nikah sampai hari H. Semuanya berlangsung singkat dan cepat.

Ada satu yang menarik perhatian saya. Ketika dosen Universitas Islam Attahiriah Jakarta ini mengatakan, “Ana pas mau beli cincin. Itu menjaga banget biar enggak jalan sama Shofa. Supaya ukurannya enggak salah. Ukuran jari manis Shofa diikat pakai benang. Hasilnya dijadikan patokan ukuran cincin. Jadi pas beli cincinnya, ana bawa tuh ikatan benang ukuran jari manis Shofa.”[2]

Sampai pada satu keperluan mendesak persiapan nikah yang mengharuskan jalan dengan calon istrinya – belum akad jadi sebut saja calon istri, Bang Ghofur izin ke orang tua dan minta restu dulu ke dua guru agamanya: KH. Ahmad Syarifuddin Abdul Ghoni, MA dan Abuya KH. Hisyam Hasyim Al-Burhani.

Sampai segitunya. Minta izin ke orang tua dan guru. Demi agar sebelum menikah tetap dalam jalur yang diridai Tuhan.

Menurut saya, tanpa perlu ngomong ke guru pun udah cukup. Bang Ghofur ini kan ilmu agamanya lumayan. Sudah banyak kitab kuning yang dikhatamkan. Masa urusan begitu saja pake izin sama guru. Namun, inilah yang disebut dengan adab dan ihtiyath – menjaga diri.

Puncaknya, Bang Ghofur menegaskan bahwa menikah tanpa pacaran itu ternyata logis. Masuk akal. Selama kita mengutamakan agama dari calon pasangan. Banyak hal romantis religius yang terjadi sebakda menikah jika nikah dilandasi dengan tanpa pacaran dan mengutamakan agama.

Sebut saja seperti pengakuan Bang Ghofur ...

  • Suatu ketika dia uangnya lagi benar-benar habis, istrinya pun memberikan uang dari uang pemberian yang biasa Bang Ghofur kasih. Ternyata sama sang istri disimpan. Tidak dihabiskan.
  • Bang Ghofur ini punya kebiasaan tidur siang, terkadang salat asarnya tidak tepat waktu. Bangunnya bakda asar. Semenjak menikah, setiap azan asar sang istri membangunkan dan mengingatkan untuk dia salat asar berjemaah di masjid.
  • Suatu hari selepas belanja di pasar, barang belanjaan Bang Ghofur hilang. Raib. Dicuri orang. Sang istri dengan berani menegur sang satpam. Selepas belanja, agenda awalnya kan mau makan-makan. Menyadari baru terjadi musibah, pasangannya ini tanpa sungkan menolak. Memintanya untuk langsung pulang saja.

Terus apa hubungannya dengan judul di atas?

Hmm, santai. Ini saya juga lagi mikir apa hubungannya, hehehe. Uuups, bercanda, bercanda.

Jadi gini, orang yang pacaran selama proses persiapan nikah pasti ke mana-mana berdua. Ya, emang enggak selalu. Cuma pasti ada momentum berduanya. Bahkan jauh sudah terjadi dari sebelum mau menikah. Sebut saja seperti nonton ke bioskop, makan bareng, antar-jemput pacar, travelling, dan masih banyak lagi.

Intinya, orang yang pacaran nyaris mengandalkan dirinya untuk menjaga dan melindungi pacarnya. Bentuk penjagaan dan perlindungannya kan macam-macam. Setiap orang punya gaya dan cara masing-masing. Ada yang tiap hari menanyakan kabar, jadi ojek cinta, sampai posting foto berdua di media sosial.

Menurut saya, aktivitas-aktivitas – menanyakan kabar, jadi ojek cinta, dan lain-lain – adalah bentuk ekspresi kepercayaan diri dari sang pencinta kepada orang tersayangnya. Dia sampai memberikan – bahasa kasarnya merelakan – waktu, pikiran, tenaga, kuota, bensin, uang, dan lain-lainnya untuk orang yang amat dicintainya.

Pertanyaannya, kenapa dia melakukan itu? Di antara banyak alasan salah duanya: agar tidak kehilangan dan ajang pembuktian bahwa cinta bukan sebatas di mulut saja.

Itulah kenapa saya menyebut orang yang pacaran adalah orang yang percaya diri. Karena dia mengandalkan dirinya untuk menjaga, melindungi, mengontrol, mengawasi, mengayomi, dan me-, me- lainnya untuk sosok yang amat berharga dan bernilai.

Cara-cara di atas ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan senior saya, Bang Ghofur. Selama proses menuju ke pernikahan, dia tidak mengandalkan diri tapi Tuhannya. Dia tidak perlu repot-repot ...
  • Menanyakan kabar setiap hari
  • Mengingatkan sudah makan, salat, mandi, dan lain-lain
  • Mengantar-jemput sang kekasih
  • Membawakan makanan kesukaan
  • Membelikan barang yang sedang diinginkan
  • Mengajak kencan ke kafe, mall, atau warung makan pinggiran jalan
  • Mengajak nonton ke bioskop
  • Menghabiskan kuota atau pulsa untuk saling berkabar dan video call
  • Memamerkan foto mesra di media sosial

Dia sama sekali tidak melakukan itu. Karena Bang Ghofur – menurut saya – memang tidak cukup punya keberanian. Kampungan. Ndeso. Enggak percaya diri. Enggak PD.

Tapi, saya teringat definisi PD menurut Kang Dewa Eka Prayoga, 
“PD itu bukan percaya diri tapi PERCAYA DIA."
Ya, karena PERCAYA DIA, Bang Ghofur memilih untuk ...
  • Percaya bahwa Tuhan akan menjaga dia baik-baik saja di sana walau kita hanya menjaganya lewat doa. Tanpa perlu mengingatkan sudah makan atau belum.
  • Percaya bahwa Yang Maha Esa akan melindunginya dengan sebaik-baik perlindungan walau kita tidak mengantar-jemputnya sama sekali.
  • Percaya bahwa Yang Mahakuasa berkuasa untuk menyatukan walau tak saling berkabar di media sosial.
  • Percaya bahwa Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan merekahkan kasih, sayang, dan cinta kepadanya walau kita tak mengucapkan, “I love you.”
  • Percaya bahwa Yang Maha Pemurah akan mempertemukan dalam ikatan halal walau tak punya jadwal rutin untuk bertemu
Nah, itulah kenapa saya mengatakan,
“Orang yang pacaran dengan yang tidak bedanya tipis. Orang yang pacaran, definisi PD-nya PERCAYA DIRI; orang yang tidak pacaran, arti PD-nya PERCAYA DIA."
Entah kesimpulan saya yang salah atau bagaimana, saya mengimani dan mempercayai bahwa dengan PERCAYA DIA, setidaknya jalan kita menemukan jodoh akan dipermudah. Prosesnya lebih praktis. Enggak membuang-buang waktu. 

Poin pentingnya, tanpa ada satu pihak pun yang menyakiti dan tersakiti sama sekali. Poin terangnya, tidak ada istilah mantan di antara dua pihak yang meniti jalur PERCAYA DIA.

Ah, bukankah itu mengasyikkan? Tidak menambah daftar mantan di lemari usang hati kita.

Jangan dulu sepakat, tulisannya masih bersambung.

Lanjut, jangan?




[1] Ceritanya di Villa Bukit Zaitun, sebakda sarapan di hari terakhir LDKS MA Al-Hidayah Basmol.
[2] Inti kalimatnya gini. Semoga saya enggak salah dengar dan ingat.

1 komentar: