Nganten Baru, Ditinggal Seminggu

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/room-interior-showpiece-design-1336497/

Baru sepekan usia pernikahan, saya mau enggak mau harus ninggalin istri. Ada agenda annual meeting di Jogja dan workshop dengan klien di Surabaya untuk penyelesaian buku. Bukan kejam, ini masalahnya amanah yang enggak bisa didelegasikan.

Parahnya lagi, as new couple, kami belum bulan madu sama sekali. Tapi, udah ditinggal ke luar kota seminggu. Parah, kan?

Dengan berat hati, dari Minggu (5/1) sampai sekarang (8/1) saya masih di luar kota. Terbentang jarak puluhan kilometer dari pujaan hati yang baru saya ikat dengan akad.

Enggak usah ditanya gimana sedihnya. Pastilah. Walau selama proses pra-nikah, istri dan saya enggak pacaran, cukup seminggu bersama benih-benih cinta udah tumbuh subur. Dan kini diuji dengan jarak. Jogja-Jakarta, Surabaya-Jakarta.

Dari awal ngasih tau info soal ini udah nyesek bin berat, kok. Apalagi H-1 dan menjelang keberangkatan, ada geluduk rasa di hati. Nano-nano.

Kok enggak diajak aja istrinya, Fik?

Gimana, ya. Ini posisinya saya kan lagi kerja. Kalo istri ikut, lebih banyak jadi sapi ompong alias bengongnya. Paling ketemu sama saya cuma malamnya aja. Itu pun bisa sampai larut banget.

Alasan kedua, annual meeting dan workshop ini bukan agenda kayak family gathering. Jika istri ikut, bakal ngerepotin banyak pihak.

Contohnya gini, di hari pertama sampe Jogja, Mas Brili jemput ke stasiun Jogja pake mobilnya. Beliau ngajak adeknya, Zulham, yang lagi kuliah di UNY, dan anak muridnya yang udah punya bisnis dengan omzet ratusan juta per bulan.

Masalahnya, seandainya istri ikut, seat di mobil udah enggak muat. Selain udah diisi nama-nama di atas, juga ada rombongan Jakarta (Bisri, Qiqi, Ziah, dan saya) plus barang-barang bawaan. Total 7 orang di mobil. Itu aja, mobil udah sesak. Kami di kursi tengah dan belakangan saling berhimpitan.

Ketiga, soal penginapan. Annual meeting kali ini, kami dapat homestay gratis dari rekan Mas Brili sesama alumni GBC Batch 44. Kamar yang tersedia 3 kamar tidur, dan dua kamar mandi. Dua kamar tidur cukup besar, satu kamar tidur untuk satu orang aja.

Jika istri ikut, dia tidur di mana? Masa bareng-bareng cowok yang bukan muhrimnya. Di kamar kecil sama cewek, kamarnya mungil. Kasihan. Bisa-bisa tidur di lantai.

Tidurnya enggak bisa sekamar. Terus ngapain ikut kalo istri sama saya tidurnya misah?

Kan sebagai suami bisa kali sewa homestay baru. Mungkin itu yang terbesit.

Gini, homestay yang kami tempati jangan dibayangin seperti di villa atau hotel pada umumnya. Ini homestay letaknya di komplek perumahan gitu. Nah, rumah yang disewakan di sana, ya, cuma satu-satunya aja. Sisanya punya pribadi untuk rumah tinggal.

Kalo istri ikut, penginapan saya dengan tim bakal beda lokasi. Sedangkan aktivitas selama annual meeting, 80% di homestay. Bukankah cuma buang-buang duit jika ikut? Enggak ada rasa bulan madu atau kebersamaan bareng istrinya.

Dan masih banyak alasan lain yang enggak bisa saya tulis di sini.

Simpelnya, saya justru semakin percaya bahwa menikah tanpa pacaran ternyata sebakda nikah bisa sama-sama mencintai, mencumburui, dan merindui.

Teori yang memandang bahwa nikah tanpa pacaran itu enggak masuk akal nyatanya terbantahkan. Saya sendiri udah ngerasain.

Karena cukup butuh satu tarikan nafas dengan ucapan akad untuk menumbuhkan rasa cinta. Cukup dengan sumpah akad, dua hati mampus dikoyak-koyak rindu ketika berpisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar