Sumber foto: www.pixabay.com
Sepekan terakhir ini, saya sudah masak nasi goreng tiga kali. Ini bermula buat penghilang lapar selagi jaga Ibu yang matanya masih terjaga. Kebetulan sekali, lauk di rumah sudah ludes. Demi menghemat dana dan memantaskan diri jadi suami-suami jago masak, akhirnya saya tonton tutorial masak nasi goreng kampung.
Setelah dirasa paham step by step-nya, langsung aja siapin bahan-bahan sesuai ilmu yang saya dapat. Proses masaknya pun persis ikutin dari tutorial tadi. Mungkin bedanya di ukuran api dan saya tambahin kecap Inggris sebagai penyedap cita rasa nasgor ala kondangan.
Hasilnya?
.
"Enak juga, Bang," puji Ibu yang ikut mencicipi uji coba masak nasi goreng ala Chef Fikri.
.
"Iya doong. Anaknya siapa dulu!" balas saya sembari menyuapi Ibu lagi. Enggak nyangka juga percobaan pertama rasanya lumayan.
.
Ujung-ujungnya, itu nasi goreng habis disantap Ibu. Hehehe.
Nah, ternyata nulis tuh persis kayak masak lo. Terlepas kamu suka masak atau enggak, itu enggak penting. Poin utamanya, terapin ilmu masak ke proses nulis kamu.
Untuk memudahkannya, saya udah bagi 3 langkah nulis dari teori masak. Coba lihat di bawah ini:
CHOOSE - CIAP - COOK
Pertama, CHOOSE
Apa jadinya kalo di awal tadi, saya belum nentuin mau masak apa? Mau makan menu apa? Mungkin jadinya saya malah nonton anime Tsubasa atau Boruto kali.
Dalam menulis juga gitu. Kita kudu tentuin dulu mau nulis apa? Fiksi or non-fiksi? Cerita atau artikel? Puisi, prosa, cerpen, novel, atau essay?
Ini penting! Why? Karena oh karena tiap jenis tulisan punya "napas" waktu yang beragam plus teori nulis yang berbeda. Bakal lebih elegan kalo kita sudah beres dengan urusan ini sebelum nulis.
Kedua, CIAPKAN
Ini sebenarnya plesetan dari siapkan (ciapkan, Red) bahan-bahannya. Demi seragamnya rumus dapat toleransilah dipelesetin kayak gitu. Tujuannya, supaya kamu selalu kepikiran.
Coba bayangin deh, kita mau masak nasi goreng. Semua bahan sudah ready. Bawang putih, bawang merah, cabe, telur, dan lain-lain. Tapi, nasinya enggak ada. Apa yang terjadi?
Jadinya bukan nasi goreng tapi telor dadar!
Nah, begitu juga dalam urusan tulis menulis. Sebelum nulis, seyogyanya kita ciapkan bahan-bahannya dulu. Seperti time line, referensi, premis, outline, target halaman, target pembaca dan paling penting ialah alasan kenapa kita harus selesaikan naskah.
Tahapan ini yang 80% dari kita suka lewatin. Alhasil, di tengah jalan naskah suka mentok, jalan di tempat, dan enggak maju-maju. Akhirnya, pindah ke naskah baru yang nasibnya sebelas-dua belas dengan naskah lama. Padahal dalam proses masak, menyiapkan bahan-bahan itu waktunya lebih lama daripada proses masak itu sendiri.
Di sinilah, analisis seorang penulis diuji nyalinya. Jadi, perluas sabar kita kala sedang ada di tahap ini. Kontrol nafsu nulis kita dulu. Umumnya, mereka yang beres di tahap ini, proses nulisnya itu cepat.
Jika semua sudah ciap, lanjut ke langkah berikutnya.
KETIGA, COOK
Seperti yang saya bilang, proses masak ini sebenarnya enggak selama kita siapkan bahan-bahan. Cenderung lebih cepat.
Dalam kasus nulis, enggak usah heran kalo ada seseorang yang dalam sehari bisa nulis 200 halaman. Itu buah dari tahapan ciap yang matang. Bukan asal nulis tanpa perencanaan.
Terakhir, saya titip salam ke orang tua kamu. Kasih tahu, "Calon imammu baru bisa masak nasi goreng." Loh kok jadi ke sini. Hahaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar