Trik Membuat Buku Paling Gampang


Sumber foto: www.pixabay.com

Selagi masih jahiliah, saya berpikir menulis itu tentang KENAPA, bukan BAGAIMANA. Ternyata saya keliru. Seharusnya bukan hanya tentang KENAPA tapi juga SIAPA dan BAGAIMANA. Ya, menulis itu tentang KENAPA, SIAPA, dan BAGAIMANA.

Perubahan pandangan ini bermula dari gesekan-gesekan cerita yang saya dengar, lihat, saksikan, dan alami. Di antaranya, tiga cerita di bawah ini:

Cerita Pertama

Masih tertancap jelas cerita Bunda Helvy Tiana Rosa di Taman Ismail Marzuki. Kakak dari Bunda Asma Nadia ini menceritakan seseorang yang sudah ikut kelas kepenulisan beliau di mana-mana, tapi belum jua punya karya. Sudah diajarkan BAGAIMANA caranya menulis buku, namun tak jua menulis buku.

Curiga saya, masalah utama murid Bunda Helvy ini pada KENAPA. Saya berani bilang begini karena beliau cerita sendiri, orang ini nyaris mengikuti semua acara Bunda Helvy. Semua buku pendiri FLP ini pun dilahap, tanpa sisa. Kesimpulan ngawur saya, orang ini mengagumi wanita yang sudah merambah ke dunia perfilman.

Cerita Kedua

Di sisi lain, saya punya kawan yang tulisan-tulisan caption-nya bagus di Instagram. Namun, dia enggak tahu bagaimana caranya mengemas jadi buku. Alhasil, tulisan-tulisannya hanya bisa dinikmati di Instagram saja. Bagus, sih, tapi, pertanyaannya, apakah Instagram akan ada 50 tahun mendatang? Siapa yang bisa menjamin? Enggak ada, kan?  Akhirnya, saya bersama tim dari penerbit Teman Nulis berinisiatif untuk membukukan tulisan-tulisannya yang masih berceceran.

Nah, kawan saya ini punya masalah di BAGAIMANA. Tepatnya, bagaimana menghimpun tulisan jadi satu buku. Urusan bagaimana membuat tulisan, dia sudah clear. Urusan KENAPA dan SIAPA juga sudah beres.

Cerita Ketiga

Di seberang dunia lain, ada seseorang yang sejak dulu mau menulis buku solo. Sudah ikut kelas menulis di mana-mana. Aktif di komunitas menulis juga. Alasan menulisnya juga sudah beres. Tapi, entah kenapa kok buku solonya belum rilis juga. Setelah saya amati, ternyata masalahnya adalah SIAPA. Ini terlihat dari inkonsistennya dalam menulis, tidak menerima kritik, dan merasa tulisannya sudah paling unik dan bagus.

Jadi kesimpulannya
“Menulis itu tentang KENAPA, SIAPA, dan BAGAIMANA.”
Sumber foto: Dokumen pribadi

Sepakat?

Memaknai Simple Book

Boleh saya lanjut?

Sebelum terlalu jauh, skarang, kita menyamakan persepsi tentang apa itu simple book dulu, ya. Biar enggak ada dusta di antara kita. Uhuuuk.

Begini, Guru-guru menulis saya membagi buku kepada dua jenis: fiksi dan non-fiksi. Nah, non-fiksi ini terbagi jadi dua macam lagi: how to dan kumpulan bab. Singkat kata, saya menyebut buku non-fiksi yang berisi kumpulan bab itu dengan nama simple book.

Supaya lebih jelas, begini gambarannya.

1. Fiksi
2. Non-fiksi

- How to : Buku yang berisi tentang langkah-langkah yang runut dari penulis. Disarankan membaca bukunya dari halaman pertama sampai terakhir. Tidak boleh acak. Contohnya: buku Yang Muda Yang Kaya (Elex Media Komputindo, 2019)  karya Basuki Surodjo. Isinya tentang bagaimana caranya anak muda bisa kaya dengan jadi pengusaha.

- Kumpulan bab: Buku yang isinya kumpulan bab. Dari bab pertama sampai terakhir tidak runut. Boleh dibaca dari mana saja. Contohnya: buku buruk rupa saya Udah, Sendiri Saja Dulu (Tera Insani, 2017).

Kenapa saya menamakan buku non-fiksi kumpulan bab dengan SIMPLE BOOK?

Jawabannya simpel, karena nyaris semua orang bisa menulis buku jenis ini. Saya sudah membuktikannya. Sepanjang tahun 2015, saya iseng-iseng aja menulis di Wordpress www.ahsanulfikri.wordpress.com. Niat awal buat terapi alias pelarian pasca putus cinta. Biar ada kesibukan sehingga enggak ada ruang buat mikirin mantan.

Hasilnya, apa yang terjadi? Setahun kemudian, buku compang-camping saya Mengejar-ngejar Cinta (Ellunar, 2016) lahir. Hanya modal memindahkan kumpulan tulisan di Wordpress ke Microsoft Word doang. Paling pusingnya sedikit: menemukan benang merahnya apa. Sesederhana itu.

Buku buruk rupa saya Udah, Sendiri Saja Dulu pun sama, dari Wordpress juga. Nyaris 70% isinya berasal dari sana, sisanya tambahan.

Luaskan Niat, Luaskan Manfaat

Seorang guru pernah ngasih tau tentang kekuatan niat. Beliau membahasakannya dengan satu kalimat yang berirama, “Intention creates attention.” Gampangnya, niat itu bisa mengundang dan memancing perhatian.

Contoh mudahnya, Rojali lagi niat mau memelihara ikan arwana. Sejak dia niat, enggak tahu kenapa di feeds Instagram-nya, muncul postingan yang berbau ikan arwana. Di sepanjang jalan pergi dan pulang dari kantor ke rumah, matanya jadi jeli, tajam, dan peka. Toko-toko ikan hias yang enggak pernah terdeteksi sebelumnya seakan-akan bertebaran di depan mata. Buanyak!

Terus, apa hubungannya dengan menulis?

Jelas, ada. Nasib buku kita bergantung dengan niat menulis kita. Ini serius.

  • Jika kamu niat menulis bukunya asal terbit, ya, Tuhan bakal bukakan jalan kemudahannya sebatas asal terbit.
  • Jika kamu menulis buku selain untuk dipersembahkan ke Ibu sendiri dan ibu-ibu se-Indonesia, Tuhan bakal kasih jalan seluas itu. Seperti misalnya tiba-tiba saja dapat ide brilian, informasi penerbit mayor yang bisa menerbitkan naskah kamu, feedback mentor yang maksimal, semangat menulis yang membara, dan riset yang mendalam.

Di awal tadi, sudah jelas prinsipnya: luaskan niat, luaskan manfaat.

Usahakan niat kamu menulis buku bukan sebatas buat kepuasan sendiri. Bukan alasan-alasan yang egois. Seperti menulis untuk orang tua. Jangan. Itu terlalu kecil. Luaskan niat dan manfaatnya agar Tuhan memberikan pertolongan-Nya.

Contohnya:
  • Menulis buku dengan konsep menulis surat buat ibu. Isinya ungkapan isi hati seorang anak yang belum diketahui sang bunda. Niatnya, untuk menyadarkan para ibu dan calon ibu di Indonesia agar lebih mengenal dan memahami anak. Itu niat manfaat kontennya. Niat manfaat royaltinya, 100% disumbangkan untuk beasiswa ke 100 anak yang kurang mampu.
  • Niat infak minimal 1 juta rupiah per bulan dari profit buku yang ditulis.
  • Niat membayarkan biaya listrik 100 masjid di kota kelahiran.

Niatnya bukan buat memperkaya atau kepuasan diri sendiri. Ini untuk kepentingan orang lain. Kepentingan yang lebih besar. Niatnya bukan ke target penjualan sekian eksemplar. Bukan. Kenapa? Karena buku kita laris berapa eksemplar itu sudah masuk ranah kuasa Tuhan. Kita enggak boleh ikut campur.

Dengan adanya niat ini, kita jadi sepenuhnya bergantung ke Yang Maha Esa. Misalnya ...

  • Di tengah jalan, ide mentok. Doa saja ke Allah, “Ya Allah, tolong berikan hamba ide terbaik agar buku yang sedang hamba tulis ini selesai. Engkau Maha Mengetahui, profit dari penjualan buku ini akan hamba sumbangkan 100% untuk biaya makan anak-anak di pelosok nusantara. Jika hamba mentok, siapa yang akan menolong mereka duhai Tuhan?”
  • Kala penjualan buku seret, curhat ke Allah dengan doa sejenis di atas.

Dengan pola ini, kita sepenuh sadar bahwa mau sepaham apa pun dengan teori kepenulisan, sebanyak apa pun referensi menulis, Allah yang punya kuasa. Jika Tuhan tidak mampukan kita menyelesaikan naskah, ya, enggak bakal selesai.

Nah, sekarang apa niat kamu menulis buku?










Apa manfaat yang mau kamu berikan dari buku yang sedang ditulis?










Miliki Role Model

Saat menulis buku Mengejar-ngejar Cinta, role model saya adalah buku-buku karya Kang Maman Suherman, Ustaz Salim A. Fillah, dan Ustaz Yusuf Mansur. Sehingga isinya sedikit santai, sedikit nyastra, dan bahasanya merakyat. Enggak berat-berat amat.

Bagi saya, role model ini penting buat jadi rujukan konsep buku kita. Terutama buat saya yang agak kurang kreatif otaknya. Tipikal saya lebih cenderung otak ATM alias amati, tiru, dan modifikasi. Jadi, role model cukup berperan besar selama proses kreatif menulis simple book.

Intinya, cari buku simple book yang kamu paling sukai, selanjutnya ATM konsep bukunya. Sesederhana itu.

Role model juga penting buat membaca konsep buku yang lagi digandrungi dan digilai pasar. Kalo pasar lagi senang buku yang dominan ilustrasi sama quote, setidaknya ada beberapa halaman di buku kamu seperti itu. Bukan ikut-ikutan, tapi mengikuti selera pasar.

Kuy tulis buku-buku apa saja yang kamu jadikan role model?








Poin apa saja yang bisa kamu tiru dan modifikasi dari role model?













Contoh: Ada quote dan ilustrasi, per paragraf maksimal 4 kalimat, dan lain-lain

Ukur Kapabilitas Diri

Eyang Khrisna Pabichara pernah bilang, “Penulis yang cerdas adalah penulis yang jago hitung-hitungan.” Itu pesan yang saya tangkap dari ceramah beliau di acara Workshop Writerpreneur Accelerate di Bogor.

Ini bukan ngitung royalti, ya. Menghitung kapabilitas diri. Jujur-jujuran menilai diri sendiri. Menghitung seberapa cepat kita menulis dalam satu jam, sehari, dan sebulan. Ini bagian yang sering luput.

Misalnya:
  • Rojali mau menulis naskah setebal 150 halaman.
  • Dari waktu 24 jamnya, dia punya waktu menulis 4 jam dalam sehari.
  • Selama 4 jam, Rojali mampu menulis setidaknya 20 sampai 30 halaman.
  • Artinya, dia hanya butuh waktu 5 sampai 7 hari buat menyelesaikan naskah.
  • Dengan demikian, Rojali bisa memperkirakan timeline penulisan naskah terbarunya selama 30 hari dengan rincian sebagai berikut:

1.      Pra-writing
o   Premis, outline, dan mind mapping: 1 November 2019
o   Mengumpulkan referensi: 2 – 8 November 2019
2.      Writing
o   Proses menulis: 9 – 15 November 2019
3.      Pasca writing
o   Mengendapkan naskah: 16 – 18 November 2019
o   Editing: 19 – 21 November 2019
o   Proof reading: 22 – 23 November 2019
o   Revisi naskah: 24 – 25 November 2019
o   Pengajuan ISBN, layout, dan desain sampul: 26 – 27 November 2019
o   Voting cover: 28-29 November 2019
o   Pre-order: 30 November 2019

Sekarang, ukur diri kamu. Dalam sehari kamu mau meluangkan waktu berapa jam buat menulis naskah?




Berapa halaman yang kamu dapat selama itu?






Berapa hari target naskah kamu selesai?





Deklarasikan dan Deadline

Setelah kamu hitung-hitungan di atas, deadline baru bisa ditentukan. Setidaknya, deadline jadi agak masuk akal. Ada hitungan matematisnya. Bukan bermodal semangat membara semata.
Setelah punya deadline, usahakan buat mendeklarasikan impian kamu ke publik. Minimal ke orang-orang terdekat. Manfaatnya besar banget ...
  • Meminta doa kepada orang lain agar proses kreatif penulisan naskah dipermudah
  • Orang-orang terdekat bisa jadi reminder kala kita mulai lengah
  • Menjadi pelecut yang bisa mendorong jika tidak tercapai. Sudah deklarasi, masa enggak ada karya bukti? Malu!

Seorang guru menulis pernah menasihati, 

“Menulis tanpa deadline adalah omong kosong!”

Jadi, kapan deadline menulis kamu?






Di mana saja kamu mendeklarasikan deadline menulis buku?




(Misalnya: Facebook, Instagram, dan WhatsApp)

Siapa saja orang-orang terdekat yang kamu minta tolong untuk jadi reminder?











Filosofi Kura-kura

Prinsipnya ...
“Bukan seberapa cepat kamu menyelesaikan naskah, tapi seberapa konsisten dan komitmen kamu menulis.”

Kalimat di atas belajar dari kisah kura-kura yang berhasil menyabet gelar juara lari dari kelinci. Sepertinya kisah ini tak perlu panjang lebar ditulis. Semua orang sudah tahu.
Kuncinya adalah KOMITMEN DAN KONSISTEN!


1 komentar:

  1. Keren mas kepsek. Sarannya saya ikuti ya. Jadi tambahan amunisi. Terima kasih

    BalasHapus