![]() |
| Sumber foto: https://pixabay.com/photos/restaurant-table-setting-decoration-2697945/ |
Siapa bilang menikah itu
indah?
Coba baca cerita di bawah
ini:
Ada yang Lebih Horor dari Pertanyaan Kapan Nikah?
Belum lama ini, ada teman istri saya yang curhat ke istri. Sebut
saja namanya Melati. Waktu pernikahan kami dengannya beda tipis. Masih berdekatan.
Sampai sudah masuk satu semester menikah, Melati belum jua
hamil. Awalnya, ini biasa aja disikapi oleh ia dan pasangan. Namun, lambat
laun jadi pisau yang menyayat hati dan menusuk kepala. Di mana ia berpijak,
selalu dicecar dengan pertanyaan, “Udah ngisi belum?” Puncaknya, pertanyaan
ini sering ditanyakan kala lebaran kemarin.
Sampai pada titik, Melati terpukul. Down. Air matanya
mengucur deras, tubuhnya terguncang, dan suaranya habis. Sangat-sangat
menyiksa psikologisnya. Pertanyaan yang mungkin niatnya baik, lama kelamaan
jadi momok menakutkan. Pikiran Melati mulai liar menebak-nebak kenapa ia
belum jua hamil? Apakah ia yang mandul atau suami?
Pertanyaan “udah hamil belum?” atau “udah ngisi belum?” jadi
lebih horor daripada “kapan nikah?”
|
Dari kasus sederhana di
atas aja, di mana letak indahnya dalam membangun rumah tangga? Udah bebas dari
pertanyaan, “Kapan nikah?” ternyata ada yang lebih horor lagi.
Belum lagi,
masalah-masalah lain yang cukup pelik. Seperti ...
-
Perbedaan budaya dan kebiasaan
-
Perbedaan cara pandang dan karakter
-
Gap penghasilan antara suami dan istri
-
Gap pengetahuan antara suami dan istri
-
Dan masih banyak lagi
Saya pun jadi teringat
dengan penuturan seorang teman. Ia punya kelas pra-nikah yang alumninya sudah
puluhan ribu. Ternyata enggak sedikit alumni programnya yang memutuskan menikah
muda.
Tapi, apa yang terjadi?
“Baru menikah dua minggu,
langsung cerai sama pasangannya,” ungkap teman saya ini.
Kok bisa?
Karena menikah bukan
tentang yang indah-indah aja.
Kenapa saya ngomong gini?
Bertentangan dong dengan tema tulisan ini?
Jelas tidak.
Justru karena saya
teringat dengan pesan menohok dari Eyang Pramoedya Ananta Toer,
“Bersikap adillah sejak dalam pikiran. Jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya.”
Berangkat dari pesan dari
Sastrawan legendaris tersebut, saya mencoba untuk adil untuk menyingkap bahwa
dalam membangun mahligai rumah tangga tak melulu indah. Ada getir, pahit, asam,
anyir, pedih, derita, dan sengsaranya juga. Enggak semuanya elok seperti yang sering
digembor-gemborkan para motivator nikah muda.
Namun, saya teringat
nasihat bijak dari Ustaz Salim A. Fillah dalam salah satu bukunya. Begini kurang
lebih inti kesimpulan tulisan beliau,
“Ketika menikah diniatkan karena Allah, semua akan terasa indah.”
Lah kok bisa?
Ya, karena saat semua
kejadian dalam pernikahan disandarkan kepada Allah, kita akan rida dan ikhlas. Apa
pun yang terjadi, semua atas kehendak Allah.
Nah, mindset menikah
itu indah berdasarkan pola pikir di atas. Semua yang terjadi dalam kehidupan
rumah tangga dikembalikan ke Allah.
Cuma masalahnya, buat
rida dan ikhlas dengan ketetapan Allah itu enggak semudah membalikkan telapak
tangan. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang gitu.
Kenali Lima Tahap Pernikahan
Saya pernah baca di
sebuah buku yang intinya, “Kita akan mengetahui karakter asli pasangan setelah
tiga bulan menikah.” Artinya apa? Tiga bulan awal menikah itu masih kayak orang
pacaran.
Dan setelah saya menikah,
pendapat di buku itu benar adanya. Memasuki bulan keempat, karakter asli
pasangan mulai terlihat. Enggak lagi pakai topeng.
Nah, ini mengingatkan
saya pada pendapat dari seorang psikoterapis dan juga marriage and
relationship educator and coach. Namanya Dawn J. Lipthrott, LCSW.
Menurut Dawn, ada lima
tahapan yang akan suami-istri lewati. Sayangnya, ketika melalui setiap tahapan,
enggak ada patokan waktunya. Hanya saja setiap pasangan akan saling merasakan. Oh,
kita lagi di tahap ini sekarang. Kemarin, kita ada di tahap itu.
Apa saja tahapannya?
1. Romantic Love
2. Dissapointment
or Distress
3. Knowledge and
Awareness
4. Transformation
5. Real Love
Mari kita bedah satu per
satu.
Pertama, Romantic Love
Ini tahapan di mana kamu
sama pasangan saling mabuk kepayang. Bergelora. Cintanya menggebu-gebu. Pokoknya,
tahapan ini, masa-masa romantis.
Berapa lama berlangsung?
Allahu a’lam. Tiap pasangan
punya waktu sendiri. Saya pribadi dengan istri, merasakannya selama tiga bulan.
Tahapan ini berlaku, kok,
buat pasangan suami-istri yang menikah tanpa jalur pacaran. Saya udah buktiin
sendiri sama istri. Jadi, kalo ada yang heran, “Nikah tanpa pacaran gimana
rasanya?” kasih aja tulisan ini, hehe.
Kedua, Dissapointment or Distress
Di tahap ini, pasangan
suami istri bakal sering ...
-
saling menyalahkan,
-
berantem,
-
merasa paling benar,
-
berusaha lebih benar dari pasangannya, sampai
-
kecewa sama pasangan.
Nah, di sini agak krusial
nih.
Pasangan bakal berusaha
mengalihkan stress dengan berbagai cara.
-
Ada yang curhat ke orang lain,
-
melakukan hobinya,
-
selingkuh,
-
alihkan perhatian ke pekerjaan,
-
fokus ke anak,
-
sibuk ikut kajian, dan
-
masih banyak lagi.
Di tahapan inilah banyak
pasangan yang berpisah. Berpikir bahwa bercerai adalah jalan keluar terbaik. Terkadang
pilihan pisah ini bukan karena enggak ada lagi cinta dan sayang di hati kedua
insan, namun sudah merasa memiliki perbedaan yang enggak bisa disatukan lagi.
Nah, ketika berada di
tahap ini, sebaiknya lakukan ini:
-
Renungkan kembali tujuan menikah,
-
Temukan alasan kenapa Allah menikahkan kamu dengannya,
-
Perbanyak istighfar,
-
Fokus pada kesalahan pribadi, bukan pasangan,
-
Mulai berdamai dengan menerima pasangan,
-
Jika adu mulut, jadi orang pertama yang mengakui salah
dan minta maaf,
-
Introspeksi diri. Mungkin kita kurang kasih perhatian,
dan lain sebaginya.
-
Ajak pasangan ngobrol dari hati ke hati.
Ketiga, Knowledge and Awardness
Singkat kata, di tahap
ini, pasutri mulai berdamai dengan kekecewaan. Mereka menyibukkan diri untuk
lebih memahami bagaimana posisi diri dan pasangan. Mereka jadi lebih terbuka.
Tanda yang paling
kelihatan, pasutri ini senang minta saran dan nasihat dari pasangan lain
terkait tips pernikahan bahagia, ikut seminar, training, dan sejenisnya.
Keempat, Transformation
Pendek kata, di sini,
mulai ada perasaan bersyukur bahwa ia pasangan yang tepat untuk kamu. Begitu pun
sebaliknya. Kamu dan pasangan sudah mulai tahu gimana cara menyikapi perbedaan,
menghargai, dan lain-lain.
Intinya, sudah bisa
saling memahami.
Kelima, Real Love
Inilah puncak impian
sebuah pasutri. Satu sama lain saling melengkapi. Saling menerima positif dan
negatif pasangan. Dan akhirnya hidup dengan mesra, intim, dan bahagia sampai
menua bersama. Bahkan sampai jumpa lagi di surga.
Nah, lima tahapan dalam
pernikahan ini wajib kamu camkan saat kelak menikah. Buat apa? Buat ajang
evaluasi. Saat ini, kamu dan pasangan lagi berada di tahap mana?
Dengan mengetahui sedang
berada di tahap mana, kamu bisa ambil sikap lebih bijak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar