TEKNIK DELESI DALAM MENULIS





Semasa saya masih sekolah dulu, guru bahasa Indonesia sering memberi tugas di hari pertama sehabis liburan. Tugasnya, membuat tulisan dengan tema pengalaman menarik selagi liburan. Bisa dibilang ini taktik cerdas seorang guru buat tahu aktivitas liburan para muridnya daripada menanyakan satu per satu. Kelamaan.

Kalau sudah begini, saya termasuk siswa yang paling bingung. Apa yang mau diceritain? Rasanya 14 hari liburan saya enggak ada yang menarik. B aja. Enggak kayak teman-teman lain yang jalan-jalan ke tempat wisata, pulang kampung, atau nginep di rumah kakek-nenek mereka.

Alhasil, saya enggak pernah dapat nilai bagus buat tugas seperti ini. Pasalnya, selama dua pekan liburan, nyaris hidup saya begitu-begitu saja. Bangun tidur, nonton televisi, main bola, ngaji, ngelonin kucing, kasih makan kura-kura, ikut ke kebon anggrek bokap di Tangerang, bantu bokap nyokap di kebon anggrek, dikerjain mpok buat ngepel, nyapu, dan lain-lain.

Di mana letak menariknya? Tanpa liburan pun, kegiatan saya udah kayak gitu. Bedanya, jam belajar saya di sekolah enggak ada.

Belakangan ini, saya baru tahu bahwa pengalaman liburan yang saya anggap enggak penting itu disebut dengan DELESI (Deletion) dalam Neuro Linguistic Program (NLP) dari Coach Andra. Singkat kata, delesi adalah sebuah proses penghapusan informasi yang mengakibatkan tidak lengkapnya informasi. Begitulah kesimpulan yang saya tangkap.

Contoh nyatanya sama seperti saya kecil dulu. Menghapus semua pengalaman liburan dengan menganggapnya enggak berarti. Padahal bisa jadi, bagi orang lain itu sangat berarti. Misalnya, pengalaman saya membantu orang tua menanam pohon anggrek di kebun dan toko. Bagi orang yang selagi liburan malas bantu orang tua kan bisa jadi inspirasi.

Nah, ini persis dengan alasan kenapa seseorang belum juga mau menulis. Saya sering dapat curhatan yang isinya gitu-gitu mulu ...

  • Kak, aku enggak punya ide nih. Cerita aku enggak ada yang keren
  • Yaelah, Mas, saya ini usaha aja gagal, mana layak bikin buku?
  • Ngawur aja lu, Bro. Gue ini dulu jadi santri kan bandel, masa aib sendiri gue jadiin buku.

C’mon, buka hatimu, Soba-sobiku ...

  • Buku Kang Dewa Eka Prayoga, 7 Kesalahan Pengusaha Pemula, ditulis selagi habis bangkrut dan masih punya hutang bertumpuk.
  • Buku Bang Raditya Dika rata-rata isinya curhatan jomlo yang sering kali dianggap enggak keren. Ditolak cewek, putus, pedekate, dan sejenisnya.
  • Buku Bung Fahd Pahdepie, Hijrah Bang Tato, menceritakan pengalaman hijrahnya sang preman.
  • Buku buruk rupa saya, Udah, Sendiri Saja Dulu, merupakan penebus dosa karena pernah pacaran lima tahun.

Selagi masih kecil dulu, saya pernah terjebak dalam dunia DELESI. Menghapus semua kenangan lama dengan menganggapnya enggak bermakna. Wajar saja, saya masih piyik. Belum berpikir panjang. Masih suka ngompol di celana. Pertanyaannya, kamu udah bukan anak kecil dan enggak ngompol lagi, kan?

Gunakan Delesi Sesuai Tempatnya

Walau demikian, DELESI tetap dibutuhkan dalam proses penyajian informasi. Khususnya ketika menyajinya dalam bentuk tulisan. Delesi dalam beberapa kasus malah jadi wajib hukumnya.

Menurut otak bodoh saya, delesi penting ketika berurusan dengan

  • Aib
  • Pencemaran nama baik
  • Menjaga martabat seseorang
  • Menjaga rahasia

Sebagai contoh ...

  • Di buku Melukis Pelangi karya Mbak Oki Setiana Dewi, sang ibu sampai memuji dalam testimoninya karena Mbak Oki tidak menceritakan aib keluarga.
  • Di buku buruk rupa saya, Udah, Sendiri Saja Dulu, tidak menyebut nama mantan sama sekali. Buat apa coba?

Kesimpulannya, silakan disimpulkan sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar